Skip to content

Menguji Adrenalin Di Air Terjun Sri Gethuk

December 20, 2011

foto dok.pribadi

            Saya mendengar tentang Air Terjun Sri Gethuk pertama kali dari teman saya. Teman saya ini kebetulan seorang travel writer yang pekerjaannya blusukan ke tempat-tempat wisata. Sudah beberapa kali perjalanan yang saya lakukan terinspirasi olehnya. Mulai dari tulisan, foto-foto sampai cerita-cerita yang dia sebarkan langsung dari bibirnya untuk “memanas-manasi” saya dan teman-teman lainnya agar main ke tempat-tempat yang dia kunjungi. Meski saya mendengar pertama kali dari teman saya tapi untuk Sri Gethuk saya lah yang justru membuat teman saya itu “panas.”

            Sabtu tanggal 10 Desember kemarin saya dan tiga orang teman saya berangkat menuju Air Terjun Sri Gethuk untuk canyoning. Dengan dua sepeda motor kami melaju dari Jogja menuju Gunung Kidul. Langit mendung sore itu, bahkan gerimis mulai menyapa tapi tidak menyurutkan niat kami untuk melanjutkan perjalanan. Malam sudah sangat gelap meski saya taksir belum sampai pukul tujuh ketika kami memasuki Desa Bleberan, Kecamatan Playen. Sempat bingung menitipkan sepeda motor, kami memutuskan “menitipkan” sepeda motor kami di warung semi permanen yang sudah tutup. Kami kemalaman.

            Dibantu cahaya dari satu senter kami berempat mulai menapaki pematang sawah. Setengah jam kira-kira kami berjalan, karena kami sempat nyasar, sampai kami menemukan tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Tepat di atas air terjun Sri Gethuk. Malam itu sedianya kami menyaksikan gerhana bulan total. Sayang langit sedang mendung. Menghemat energi, setelah makan dan bersenda gurau kami pun tidur.

            Esok pagi setelah sarapan seadanya kami mulai persiapan untuk canyoning. Tali karmantel yang kami bawa ternyata tidak cukup panjang. Sempat bingung karena pohon yang akan kami jadikan tiang pengikat letaknya lumayan jauh. Ketika tali dijatuhkan ke bawah dan teman saya yang berlaku sebagai pioner turun kami tidak yakin tali itu sampai di bawah. Hal itu membuat kami yang di atas menunggu sempat deg-degan. Belum lagi di antara kami berempat hanya teman saya yang pioner ini yang cukup ahli. Selebihnya hanya petualang kroco modal nekad.

            Perlahan tapi pasti teman saya turun. Mengiringi lompatan-lompatan kecil kakinya jantung kami turut berdetak. Bahkan tiba-tiba perut kami bertiga langsung mules. Teman saya berteriak kegirangan ketika sampai di tengah. Wajahnya dibiarkan tersapu air terjun. Dalam hati saya bersyukur, dia baik-baik saja, akan baik-baik saja. Separuh ke bawah teman saya berhenti agak lama. Pandangannya ke tali bawah terhalang bebatuan besar. Meski tak sepenuhnya yakin tali sampai ke bawah teman saya tetap turun. Tentu dia harus turun untuk menyelesaikan. Toh di tengah sama artinya terjebak, dia tidak akan bisa kemana-mana.

foto dok.pribadi

            Begitu teman saya berhasil sampai di bawah kami bersorak. Tak lama karena artinya salah satu dari kami harus segera turun. Perut kami masih mules. Tapi tentu kami tidak akan ada disini untuk melihat saja. Kami harus turun. Maka satu persatu teman saya pun turun dan menguji adrenalin mereka. Deg-degan, cemas, takut, mules semuanya terbalas begitu air terjun membasahi tubuh. Bahkan ketika kami menginjak tanah di bawah kami malah ketagihan.

foto dok.pribadi

            Foto-foto kami ambil bergantian. Dari foto-foto itulah saya berhasil membuat panas teman saya yang travel writer itu. Saya berhasil mendahuluinya menguji adrenalin di air terjun Sri Gethuk.

Mendaki Puncak Tertinggi Nglanggeran

December 13, 2011

dok.pribadi

Nglanggeran seperti mempunyai magnet tersendiri bagi saya. Sudah terlalu sering saya mengunjunginya. Namun bukan semakin bosan yang saya rasa tapi saya justru semakin jatuh cinta. Seperti Sabtu kemarin, setelah bingung memilih tempat buat nongkrong menghabiskan malam minggu, saya pun memutuskan untuk kembali menyambangi Nglanggeran.

Tidak seperti perjalanan sebelum-sebelumnya yang dipersiapkan jauh-jauh hari, perjalanan kali ini hanya butuh waktu 2 jam. Mencari tenda sewaan, mengisi botol minum, membeli sedikit roti dan mengisi perut. Tepat pukul 4 sore saya pun berangkat, bersama seorang rekan tentunya. Mendung masih menggelayut di seluruh langit kota sore itu, bahkan gerimis sempat beberapa kali menyirami tubuh kami di atas motor saat menuju lokasi. Tentu saja hal itu tidak menyurutkan niat kami menyambangi Nglanggeran.

Sampai di lokasi hari sudah sore, ditambah mendung yang membuat suasana menjadi gelap. Kali ini saya berniat sampai di puncak, puncak tertinggi. Setelah membayar tiket dan menitipkan sepeda motor saya dan rekan saya mulai mendaki gunung api purba ini. Agak sulit karena gerimis membuat tanah juga batu menjadi licin. Beberapa kali rekan saya terpeleset sehingga saya harus membantunya. Peluh kami menetes, membanjiri tubuh kami. Tak banyak orang di atas. Kami berpapasan dengan satu dua orang saja yang hendak turun.

Ketika mendengar adzan Magrib kami masih belum sampai di puncak yang kami tuju. Jalan semakin gelap dan becek. Nafas sudah tersenggal-senggal, terutama rekan saya yang tidak terbiasa olah raga itu. Tapi kaki terus kami paksakan berjalan sebelum hari benar-benar gelap dan kami akan semakin kesulitan mendaki dengan bantuan senter kecil di kepala saya ini.

Setelah mendaki kurang lebih satu jam kami sampai di puncak yang kami tuju. Bukan puncak tertinggi karena rupanya sudah banyak orang disana. Kami mencari salah satu puncak yang belum ada pengunjungnya sehingga kami bisa mendirikan tenda. Tidak kalah keren karena dari puncak ini kami bisa memandang pemandangan sekitar dengan leluasa. Tentu tanpa mengurungkan niat kalau esok kami akan tetap menuju puncak tertinggi.

Tenda sudah berdiri. Roti sudah dikeluarkan. Kali ini saya memang sengaja tidak membawa kompor. Tadi kami sudah sempat mampir di warung angkringan dan merasa cukup roti saja untuk makan makan juga esok hari. Langit tak kunjung cerah. Agak lama kami menunggu bintang muncul. Angin berhembus, dingin. Tak berlama-lama di luar kami pun memutuskan istirahat di dalam tenda karena langit tak kunjung cerah.

Esok pagi kami terbangun sekitar pukul empat. Masih terlalu gelap di luar. Suara-suara pendaki di puncak lain mulai riuh terdengar. Rupanya ada beberapa rombongan yang datang. Mereka terlihat duduk menanti matahari terbit. Tak terlihat matahari terbit karena langit masih mendung. Hanya semburat kuning kemerahan nampak sebaris, tak banyak.

Ketika kami memutuskan mendaki puncak tertinggi jam menunjukkan sekitar pukul sembilan. Langit sudah mulai terang. Ah rupanya langit sedang bercanda. Ketika sedang asyik memandangi pemandangan di bawah dari salah satu puncak hujan tiba-tiba turun. Buru-buru kami turun untuk berlindung di bawah batu besar. Menikmati tetesan hujan juga suara burung-burung kecil dari balik batu besar sambil menunggu hujan reda kami lakukan untuk beberapa lama.

Ah, kami tidak bisa berlama-lama. Menunggu hujan yang rintik seperti ini reda bisa jadi akan sangat lama. Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan pendakian ke puncak tertinggi. Sekali lagi tanah yang basah membuat kami harus lebih hati-hati. Tak lama, karena kami memang sudah dekat, kami mencapai puncak. Seekor burung, lumayan besar, tampak terbang rendah. Bebatuan besar tampak sejauh kami memandang. Pantas kalau ini dinamakan gunung api purba, batu-batu itu mengingatkan saya pada film-film jaman purbakala.

Pemandangan yang luar biasa indah. Hujan yang membasahi bumi membuat tumbuh-tumbuhan menghijau. Kami bisa melihat sungai, jalan juga rumah-rumah yang tampak seperti titik-titik saja. Tidak banyak yang kami lakukan di puncak. Kami hanya duduk memandangi langit, tumbuh-tumbuhan juga Merapi yang tampak pagi itu.

foto dok.pribadi

Puas memandangi pemandangan kami pun memutuskan kembali ke tenda. Perut sudah semakin lapar dan hari semakin siang. Selalu menyenangkan mendaki puncak Nglanggeran dan tak pernah puas karena dalam hati kecil kami telah muncul tekad untuk kembali lagi kesini, suatu saat nanti.

Menggalau Malam-Malam Di Pantai Indrayanti

December 5, 2011

dok. papahjenggot

           Terbiasa merencanakan perjalanan? Sering atau selalu? Merencanakan suatu perjalanan tentu baik apalagi jika perjalanan itu melibatkan beberapa orang dan lokasinya jauh, tentu dibutuhkan rencana, setidaknya untuk mengatur jadwal dan akomodasi. Tapi pernah tidak melakukan suatu perjalanan tanpa direncana, spontan? Saya lumayan sering. Tidak tahu mana tempat yang akan dituju, apa yang akan dilakukan juga bagaimana nanti disana, menginap dimana misalnya. Hanya bermodal keinginan, yang seringnya tidak bisa ditahan, saya memaksa diri saya berangkat menuju tempat yang tiba-tiba ingin saya kunjungi.

            Beberapa hari lalu saya baru saja ada acara dengan beberapa teman. Badan masih capek juga ngantuk, ditambah perut yang sempat kelaparan untuk beberapa jam ternyata tidak menyurutkan ingin saya untuk mengiyakan ajakan teman menikmati malam di Pantai Indrayanti, Gunung Kidul. Jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam ketika kami bertujuh membelah pekat malam dengan mobil. Berhenti di rumah salah seorang teman untuk mengambil gitar juga karena si teman ingin mengganti baju yang sedari pagi dipakainya juga di sebuah minimarket untuk membeli beberapa camilan kami melanjutkan kembali perjalanan.

            Sekitar pukul satu dini hari kami sampai di Pantai Indrayanti. Sepi, tentu saja tapi itu yang kami cari. Gelap, hampir tidak ada penerangan kecuali satu lampu di pinggir jalan yang letaknya tak juga dekat dengan posisi kami memarkir kendaraan. Karena memang tidak direncana dan kami tidak membawa peralatan untuk menginap kami memilih Indrayanti yang “cukup manusiawi” karena ada beberapa gazebo.  Di salah satu gazebo kami kemudian duduk, berkumpul, mengeluaran camilan dan mulai menyanyi diiringi petikan gitar. Menggalau, begitu istilah anak-anak sekarang.

            Suara debur ombak membuat sebagian dari kami kangen berat. Kangen dengan suasana pantai yang biasa kami nikmati setiap kami melakukan susur pantai. Kami bukan anak pantai tapi ya, kami cinta pantai. Tak banyak yang kami lakukan, bernyanyi dan bercanda, mengolok salah seorang teman yang kebetulan baru diputus pacarnya. Maka lagu-lagu yang kami nyanyikan pun kami persembahkan buat si teman. Menjelang pagi satu persatu dari kami mulai menata badan, selonjoran untuk kemudian tertidur. Tidak benar-benar tidur karena telingaku masih bisa menangkap petikan gitar, suara yang kadang sumbang juga debur pantai.

            Pukul lima pagi ditunjukkan di telepon genggam ketika kubuka mataku setelah mengigil kedinginan dalam tidur. Waktunya melihat matahari terbit batinku. Sayang, tak bisa kulihat matahari menyembul di ujung timur. Mendung juga karena pandanganku terhalang bukit besar, aku memutuskan berjalan-jalan di pinggir pantai. Mengambil beberapa poto hewan-hewan laut kecil dari kamera telepon genggamku juga untuk merasakan dinginnya air pantai, aku terus menyusuri pantai dengan kaki telanjang.

dok. papahjenggot

            Kotor. Hamparan pasir putih penuh dengan sampah. Sayang sekali, padahal pantai ini cukup indah. Ketika saya berhenti untuk istirahat saya lihat seorang bapak sedang menyapu. Rupanya ada juga yang membersihkan mesti tidak semuanya. Si bapak hanya menyapu di sekitar gazebo saja. Seorang ibu dengan karung plastik mengambil sampah-sampah plastik seperti bekas minuman mineral. Permasalahan yang sama, ketidakpedulian yang lama.

            Pukul tujuh pagi kami memutuskan kembali ke Jogja. Seorang teman ada acara sehingga harus cepat kembali. Tak lama memang, tidak seperti waktu-waktu yang kami habisakan tiap kali mengunjungi pantai-pantai di sepanjang Gunung Kidul tapi kami sudah cukup puas. Rindu kami sudah cukup terobati dan semakin memompa semangat kami kembali melakukan perjalanan lagi. Tunggu kami, tidak lama lagi kami akan menyapamu wahai pantai-pantai yang indah!

dok. papahjenggot

“Membaca Mading” Di (Gerbang) Tamansari

December 1, 2011

photo by papahjenggot

            Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, akan dibawa kemana saya, ketika rekan saya melajukan sepeda motornya ke belakang sebuah pasar. Kami melewati jalan kecil dengan rumah-rumah penduduk yang berdempetan. Bukannya tadi rekan saya bilang akan mengajak saya ke Tamansari, batin saya bertanya. Dan benar, dia memang membawa saya ke Tamansari yang sebelumnya saya lihat fotonya di sebuah museum. Foto lama itu digantung di salah satu dinding, bersama beberapa foto tempat-tempat juga bangunan bersejarah di Yogyakarta.

            Sepi, itu kesan pertama saya. Dari luar tidak terlihat kalau saya akan memasuki kawasan wisata peninggalan sejarah. Rumah-rumah penduduk tampak berdempetan khas rumah-rumah di kota besar. Bahkan, tepat di samping kiri dan kanan pintu gerbang Tamansari terdapat hunian penduduk. Bagi saya ini memang berbeda karena sejauh saya mengunjungi tempat wisata biasanya lokasinya tidak akan bergandengan dengan hunian penduduk sekitar alias diisolasi.

            Begitu saya masuk ke dalam bangunan yang di sisi-sisinya menunjukkan reruntuhan kesan pertama saya langsung hilang. Di dalam ternyata banyak sekali muda-mudi yang duduk-duduk, berfoto atau sekadar haha hihi dengan teman atau pacarnya. Rekan saya mengajak saya berkeliling, melewati terowongan yang tembus ke beberapa pintu yang sebagian terkunci. Saya amati tembok Tamansari, masih baru. Rupanya Tamansari sedang direnovasi. Rekan saya bercerita kalau dulu, sebelum gempa yang melanda Jogja tahun 2006 silam, dia bisa naik ke atas bangunan. Sekarang itu dilarang karena dikhawatirkan akan runtuh.

            Ketika rekan saya mengajak saya melihat pemandian kami harus kecewa. Jam setengah lima sore pemandian ditutup. Saya dan rekan saya sampai di lokasi hampir pukul lima. Penjaga menyarankan kami datang lagi esok pagi. Jam tujuh pagi sudah dibuka, kata si penjaga. Akhirnya saya dan rekan saya kembali ke bangunan utama (menurut perkiraan saya). Di reruntuhan sebelah barat kami duduk. Ah, lebih baik menunggu senja, melihat matahari terbenam. Dari tempat kami duduk pemandangan terlihat lebih indah. Gunung Merapi, Gunung Sumbing atau Sindoro (rekan saya tidak yakin)  juga Gunung Merbabu terlihat lumayan jelas. Yang lebih indah lagi matahari terlihat jingga dan bundar.

            Ah, hampir lupa. Seperti juga tempat-tempat wisata di Indonesia, saya tidak tahu jika di luar negeri karena belum pernah, Tamansari tidak luput dari tangan-tangan iseng nan jail dari pengunjung. Hampir di semua temboknya penuh coretan khas anak muda. Seperti sedang membaca mading di sekolah-sekolah, iseng saya baca satu persatu coretan-coretan itu. Si anu cinta ini. Si B pernah kesini. Grup ini benci grup itu. Sangat disayangkan sekali. Generasi yang diharapkan bisa menjaga peninggalan sejarah justru “menodai” warisan leluhur hanya demi kesenangan sesaat. Baiklah, saya sendiri mungkin juga bisa dibilang tidak peduli dengan warisan sejarah. Saya tidak bisa dibilang menikmati jalan-jalan di Tamansari ini kecuali ketika saya melihat pemandangan matahari terbenam itu bersama rekan saya. Melihat “reruntuhan” yang penuh coretan sungguh tidak asyik untuk liburan.

photo by papahjenggot

            “Reruntuhan” sepertinya kata-kata saya terlalu kejam, tidak pantas tapi itulah yang saya rasakan. Sebuah gerbang yang bagi saya lebih seperti benteng dengan beberapa terowongan bawah tanah yang terkunci tidak lah menarik. Keesokan hari ketika saya membuka-buka majalah backpacker online, yang kebetulan di salah satu tulisannya membahas Tamansari, saya terkejut. Foto-foto yang ditampilkan begitu indah. Uraian dari penulisnya pun menunjukkan kalau Tamansari layak dikunjungi. Apa yang salah? Apakah kita mengunjungi Tamansari yang sama?

photo by papahjenggot

            Jawabannya kemudian saya temukan dari rekan juga teman saya. Entah karena saya tidak mendengar ketika rekan saya bercerita atau dia memang tidak mengatakan apa-apa tentang seperti apa Tamansari sebenarnya, saya baru tahu kalau Tamansari adalah sebuah istana, bekas istana dan yang saya lihat baru gerbangnya saja. Di komplek istana itu terdapat pemandian, masjid bawah tanah juga ruang bersemedi. Ah sayang sekali, sayang sekali saya tidak bisa melihatnya. Tentu karena kedatangan saya yang terlalu sore sehingga banyak yang sudah ditutup. Saya rasa lain waktu akan saya ulangi perjalanan saya ke sana. Itu juga yang dikatakan rekan saya.

 ***

Indahnya Kebersamaan Di Ngayogjazz

November 15, 2011

            Jam di telepon genggam saya menunjukkan hampir pukul setengah sebelas malam ketika saya dan rekan saya sampai di venue, yaitu Pasar Kotagede. Venue masih terlihat ramai mesti sebagian orang meninggalkan venue ketika kami justru beranjak masuk ke panggung utama. Suara pembawa acara juga tawa penonton membuat kaki saya ingin cepat-cepat sampai ke panggung tapi saya harus sabar karena kami harus berjalan memutar untuk masuk. Begitu kami sampai Rieka Roeslan sudah berada di atas panggung.

            Ah, saya kurang beruntung. Tubuh saya yang tidak terlalu tinggi kalah dengan penonton lain yang berada di depan. Meski sudah melompat-lompat juga dicarikan celah oleh rekan saya tetap saja saya harus ikhlas hanya bisa melihat pucuk kepala mantan vokalis The Groove itu. Tak mengapa. Saya cukup dekat dengan panggung dan suaranya bisa saya dengar dengan sangat jelas.

            Saya bukan pecinta jazz. Tidak mengerti jazz tapi inilah kehebatan musik. Musik menggunakan bahasa yang universal yang mampu dirasakan, dinikmati bagi siapa saja yang mau membuka hati tentunya. Tak terasa kepala juga kaki saya ikut bergerak mengikuti irama. Seorang gadis yang berdiri di samping saya tampak begitu antusias ketika Rieka menyanyikan sebuah lagu lawas yang dulu diciptakannya ketika masih bergabung dengan grupnya, Khayalan.

            Malam semakin larut dan keringat terus saja menetes di sekujur tubuh saya. Panas. Sesekali saya juga harus mundur dan dipegangi rekan saya ketika beberapa penonton meringsek maju atau juga yang ingin keluar dari area. Para MC kocak kembali muncul, membuat kami para penonton terbahak. Tak lama lagi acara akan ditutup. Trie Utami tampil bersama Idang Rasidi, beberapa pemain seperti pemain gendang, saksofon, bas juga tentunya Djaduk Ferianto. Kembali kami disuguhi penampilan yang bukan hanya mengundang decak kagum tapi juga sekaligus bangga. Hebat. Ya, mereka orang-orang hebat.

            Angan saya melayang. Betapa indahnya kebersamaan ini. Penonton dari berbagai latar belakang sosial berkumpul demi menikmati musik bersama. Damai. Berbeda dengan perjalanan-perjalanan saya sebelumnya, kali ini saya sama sekali tidak mengeluarkan kamera, tidak juga dari kamera telepon genggam saya. Posisi berdiri saya yang tidak strategis tidak memungkinkan untuk itu, tidak dengan kamera jadul saya, kamera digital pinjaman apalagi kamera telepon genggam saya. Pun begitu tak sedikitpun mengurangi rasa puas saya menonton Ngajogjazz tahun ini. Pukul dua belas malam lebih, hampir pukul satu saya dan rekan saya meninggalkan venue setelah acara ditutup tentunya.

Berburu Senja Di Candi Plaosan

November 14, 2011

            Jam masih menunjukkan pukul setengah lima ketika saya dan rekan saya sampai di Candi Plaosan yang terletak di Dusun Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten. Langit masih begitu terang. Matahari di ufuk barat terlihat, meski tak jelas karena kadang tertutup awan, kecil, jauh. Berburu senja, ya itu yang saya dan rekan saya lakukan. Dengan kamera jadul yang masih menggunakan film serta kamera dari telepon genggam kami mencoba menangkap moment terbenamnya matahari.

            Candi Plaosan terlihat sepi. Hanya saya dan rekan saya yang terlihat mengunjungi candi sore itu. Kami berkeliling, melihat candi-candi yang sebagian besar runtuh, hanya ongokan. Saya mencoba menghitung ongokan batu-batu besar itu. Banyak sekali. Andai semua berdiri tentu akan terlihat megah komplek candi ini. Sayang, ketika saya tanyakan pada rekan saya kenapa candi-candi itu dibiarkan terongok jawaban yang tidak terdengar mengejutkan saya dapatkan. Lagi-lagi tentang uang. Tidak ada dana. Ah, selalu seperti itu. Tidak ada dana yang seringnya berbanding lurus dengan melemahnya semangat menjaga warisan nenek moyang.

            Meski sebagian candi hanya berupa reruntuhan tapi secara umum komplek Candi Plaosan begitu bersih. Tidak ada sampah berserakan seperti yang biasa saya lihat di Candi Borobudur atau Candi Prambanan misalnya. Mungkin karena memang tidak banyak yang mengunjungi sehingga tidak banyak juga yang mengotori, pikiran saya kembali berprasangka.

            Menjelang senja beberapa pengunjung terlihat. Seperti kami, mereka terlihat membawa kamera. Kalau saya dan rekan saya sengaja memburu potret senja pengunjung yang ini terlihat lebih tertarik pada candi. Dengan seorang guide yang terlihat bersemangat menceritakan sejarah tentang Candi Plaosan pengunjung yang ternyata turis asing itu mengambil beberapa foto candi. Sepasang muda mudi juga terlihat memasuki candi sambil mengambil foto diri berlatar belakang candi. Ah, anak muda.

            Berbeda dengan saya yang lebih banyak merenung tentang candi ini, seperti apa dulu ketika komplek candi ini masih utuh dan kokoh berdiri, kehidupan masa itu, rekan saya tampak sibuk mencari sudut yang pas untuk memotret senja. Seorang rekan melalui telepon genggam mengabarkan juga sedang bersepeda menuju Candi Plaosan. Rekan saya yang satu ini memang keren. Tubuh mungilnya berbanding terbalik dengan kekuatan dan semangatnya yang selalu membara jika berpetualang.

            Jam menunjuk hampir di angka setengah enam tapi ternyata rekan yang kami tunggu tidak datang juga. Sementara itu di ujung barat matahari tak terlihat, tertutup awan. Ah, akankah kami kehilangan momen terbenamnya sang surya itu? Sambil terus menunggu, saya dan rekan saya berkeliling, mengambil beberapa foto candi, langit dan tentu saya foto narsis saya. Ah, yang tak lagi muda juga masih ingin narsis rupanya.

            Jam terus bergulir. Rekan yang ditunggu tak juga datang sementara senja yang ditunggu tak tampak jelas, tak terlihat semburat karena tertutup awan. Rekan saya yang sudah bersiap dengan kamera di tangan berlari ketika dilihatnya matahari akan terbenam. Ah, tak tertangkap kamera. Matahari terlalu jauh dan kamera kamu tidak memadai. Beberapa foto sempat kami ambil meski dengan hasil yang tidak memuaskan. Tak lama matahari kembali terlihat. Kali ini dia sudah siap terbenam. Rekan saya memperingatkan saya agar memperhatikan matahari.

            Dalam hitungan detik matahari nun jauh di ujung barat terbenam. Langit semakin gelap. Sayup adzan mulai terdengar dari beberapa masjid juga mushola. Waktunya untuk pulang, batinku. Beberapa foto kembali diambil sebelum kami keluar dari kawasan Candi Plaosan ini. Menunggu adzan selesai kami minum di warung dimana kami juga menitipkan sepeda motor kami. Oh iya hampir lupa, untuk masuk ke kawasan Candi Plaosan ini gratis tapi ketika mengisi buku tamu di ruang satpam depan kami diminta memberi sumbangan dana seiklasnya.

***

Menikmati Jeram Di Noars

November 5, 2011

poto diambil dari google

               Tidak ada persiapan khusus untuk perjalanan kali ini. Selain karena tidak akan menginap, nyaris semua tetek bengek yang dibutuhkan di perjalanan ini sudah diurus oleh teman saya. Saya hanya diminta menyiapkan diri, fisik dan mental. Fisik bukan karena saya tidak terbiasa latihan rutin atau olah raga rutin tapi lebih pada mengistirahatkan badan saya yang masih lelah setelah sebelumnya melakukan perjalanan ke tempat lain. Untuk mental saya cukup berdoa agar besok pada hari H tidak turun hujan serta agar bisa bangun pagi.

            Oh iya, perjalanan kali ini adalah arung jeram di Noars, Probolinggo. Noars? Ya, awalnya saya juga asing dengan nama itu. Setahu saya untuk arung jeram di daerah Jawa Timur acuannya selalu Songa. Noars ini bisa dibilang memang masih baru. Lokasinya tidak jauh dari Songa, masih satu area. Kata teman saya yang menjadi “EO” dari perjalanan ini sedang ada promo dari marketing Noars. Paket Beautiful, entah kenapa dinamakan seperti itu, yang biasa dibandrol 225.000 rupiah untuk promo kali ini hanya menjadi sekitar 159.000 rupiah per orang.

            Tidak mudah memang mengumpulkan juga menyatukan beberapa kepala agar bisa mengikuti jadwal yang sudah diatur sebelumnya. Molor setengah jam saya anggap masih lumayan mesti akhirnya sampai di lokasi molornya jadi lebih-lebih lagi. Pengelola yang menerima saya dan rombongan langsung meminta kami bersiap-siap karena kami sudah telat satu jam lebih dari yang dijadwalkan. Setelah memakai perlengkapan pengaman saya dan teman-teman saya yang berjumlah 13 orang, 6 orang tidak ikut arung jeram, dibagi dalam 3 kelompok. Tiga boat masing-masing berisi 4 orang dengan satu pemandu untuk dua boat dan boat yang ketiga berisi 5 orang plus satu pemandu.

            Dari basecamp kami diangkut dengan mobil pick up. Perjalanannya memakan waktu sekitar 15 menit. Turun dari pick up kami harus berjalan menuju sungai. Perjalanan kaki ini kurang lebih sekitar 15 menit juga dengan medan yang awalnya sedikit menanjak tapi kemudian banyak turunnya. Di sungai boat-boat kami sudah menunggu. Sesuai dengan pembagian kelompok sebelumnya kami masuk ke boat-boat sesuai dengan yang ditunjukkan oleh pemandu kami. Sebelum mulai arung jeram, pemandu membari sedikit briefing tentang cara duduk di boat, memegang dayung serta aba-aba apa saja yang akan digunakan selama arung jeram dan bagaimana mengikuti aba-aba tersebut.

            Air yang dingin tapi segar menyentuh kulit saya ketika si pemandu sengaja mengguyurkan air sungai ke tubuh saya dan teman-teman saya. Ya! Ini yang saya tunggu. Boat kami perlahan mulai meluncur, menyusuri sungai. Di sepanjang perjalanan pemandu bercerita tentang jeram juga air terjun yang banyak kami temui sepanjang sungai. Di salah satu “spot” saya sempat melihat kera. Seekor yang lumayan besar dan tiga ekor kera kecil. Pemandu bercerita kalau sedang hujan akan terlihat lebih banyak lagi keranya.

            Separuh perjalanan kami berhenti di rest area. Perut yang belum sempat diisi nasi, hanya sepotong roti karena kami semua tidak sempat sarapan, langsung melahap pisang goreng yang disediakan pengelola. Segelas susu sapi plus jahe juga ikut menghangatkan tubuh kami yang mengigil kedinginan. Tak lama karena diburu waktu kami melanjutkan lagi perjalanan arung jeram ini. Beberapa jeram membuat kami berteriak tapi bukan karena takut melainkan lebih pada terlalu semangat, senang. Di sebuah tebing yang biasa dipakai melompat boat kami berhenti. Dua boat lain memilih meneruskan perjalanan karena tidak ada yang ingin mencoba melompat dari tebing ke sungai.

            Sedikit pemandangan yang menurut saya menganggu selama mengarungi jeram ini adalah beberapa penduduk lokal yang mandi di sungai. Tentu akan sangat egois kalau saya berharap tidak ada yang mandi di sungai karena bagaimanapun sungai itu adalah milik bersama, hak warga. Yang saya maksud mengganggu disini adalah bapak-bapak yang maaf, telanjang dan dengan santai mondar-mandir. Selebihnya bagi saya pribadi arung jeram ini sudah cukup menyenangkan. Pemandu yang ramah juga sungai yang bersih, kecuali di salah satu spot dimana banyak tedapat botol-botol bekas air mineral.

poto diambil dari google

            Selama hampir 2 jam setengah kami mengarungi sungai. Menikmati jeram demi jeram dengan arus dan panjang yang bervariasi. Pengalaman arung jeram pertama yang cukup membekas dan ingin diulangi pada waktu yang lain, tempat yang lain dan mungkin teman yang lain.

Kabut Dan Golden Sunrise Puncak Sikunir, Dieng

November 3, 2011

Kabut tebal menyambut kedatangan saya dan teman saya. Bersama dengan rintik hujan udara dingin seketika menyergap. Jalan semakin menjadi misteri ketika jarak pandang hanya kurang lebih 20m. Tak ada kendaraan lain, hanya motor kami melaju pelan menanjak mengikuti kelokan. Kira-kira baru jam 5 sore saat kami melewati jalan itu, jalan yang akan mengantar kami ke Dieng, tempat persinggahan para dewa.

Setengah lima sore lebih sedikit, geliat ekonomi modern nampak dikanan kiri jalan, saya mengira  ini sudah semakin dekat dengan Dieng. Namun perkiraan saya terbantahkan oleh jawaban penduduk setempat yang saya tanyai di jalan. Masih ada 30km jalan menanjak yang harus kami tempuh untuk sampai ke desa tujuan kami. Dan lagi-lagi kabut menyapa kami, lebih gelap karena memang sudah semakin malam, kami hanya mengekor dibelakang kendaraan lain yang searah dengan kami . Setelah melewati area persawahan dan jalan yang menanjak panjang, tanda-tanda kehidupan pariwisata mulai nampak, banyak homestay dan hotel dikawasan ini, pikiran kami menyimpulkan kami sudah sampai di Dieng.

Tapi ini belum berakhir. Dieng memang tujuan utama, namun desa Sembungan yang ingin kami tuju untuk yang pertama. Karena desa inilah desa terdekat dari puncak Sikunir, tempat terbaik untuk melihat golden sunrise di kawasan Dieng. Kami sangat beruntung, kebetulan orang yang kami tanyai adalah  warga desa Sembungan. Kamipun diminta untuk mengikuti mereka dengan motor. Setelah kurang lebih lima belas menit berkendara, tibalah kami di Sembungan. Kami sempat kaget ketika kami diantar ke rumah pak lurah. Mau diapakan kami? Apakah ada tampang penjahat pada diri kami? Ternyata tidak, ini memang prosedur bagi siapapun yang hendak ke Sikunir. Mereka diharapkan mengisi buku tamu di rumah pak lurah. Keramahan penduduk desa kami rasakan dirumah pak lurah, aneka makanan terhidang di meja, perut yang lapar meronta-ronta minta untuk dimasuki semua makanan tadi. Namun urat malu ternyata lebih kuat dari rasa lapar. Kami hanya meminum teh panas manis untuk sekedar mengusir rasa dingin. Setelah mengisi buku tamu dan beramah tamah dengan tuan rumah, kami kembali ke kawasan dieng untuk mencari tempat untuk menginap, setidaknya kami sudah tahu jalan menuju puncak sikunir yang akan memudahkan  perjalanan dan tentu saja bisa memperkirakan waktu yang tepat untuk berangkat esok pagi.

Dieng memang dingin, mungkin ini yang menyebabkan sedikit sekali aktifitas malam hari diluar Rumah. Baru sekitar jam 8 malam, jalanan sudah sangat sepi, warung-warung sudah menutup usahanya. Para wisatawan sudah meringkuk di homestay-homestay yang mereka sewa. Kami pun memilih istirahat lebih awal, badan sudah tak kuat lagi menyangga kepala.

Adzan subuh belum juga terdengar, namun mata sudah terjaga. Mungkin karena sudah tak sabar untuk melihat pertunjukan alam diatas bukit Sikunir . Badan telah komplit dengan atributnya, kamera pinjaman sudah masuk diransel. Kami berangkat entah pukul berapa, yang jelas masih sangat pagi, diluar masih gelap dan tentu saja sepi. Hanya redup cahaya bulan dan sedikit bintang-bintang menemani kami menyusuri jalanan yang rusak. Untung kami telah melakukan survey kemarin, toh kamipun masih sesekali salah memilih jalan, sehingga harus berputar dan kembali mengingat-ingat jalan kemarin. Hingga sampailah kami  disebuah lapangan di pinggir telaga. Ada beberapa motor disana, berarti bukan kami yang pertama tiba. Lagi-lagi kami beruntung, ada penduduk lokal yang hendak naik membawa tas ransel besar, yang kami ketahui isinya adalah makanan dan minuman yang akan dijual diatas bukit.

Jalan setapak menanjak, tak begitu terjal namun sangat membuat nafas kami tersengal. Mungkin karena ada diketinggian diatas yang katanya kadar oksigen semakin tipis. Hawa dingin mulai tak terasa setelah berjalan, di sepanjang perjalanan mulai nampak semburat emas memanjang di ufuk timur,sesekali menghilang terhalang pepohonan,  kumpulan awan membentang seperti permadani putih, langit sangat cerah membiru, memberikan kontras warna yang alami dan memesona. Ingin rasanya mengatakan pada teman perjalanan saya, “ Andai boleh kuambil keindahan ini, kusimpan, dan akan kupersembahkan untukmu di suatu saat nanti.” Kuurungkan niat itu karena pasti akan dijawab olehnya “Prekeeetekk..!”. Hahaha.

Kurang lebih 20 menit kami mendaki, hingga akhirnya tiba juga disebuah area yang lapang dan sedikit menjorok ke lembah, tempat yang sangat pas untuk menikmati sunrise. angin bertiup semilir, sepanjang mata memandang hanyalah keindahan. Menghadap ke timur  hamparan awan putih menyelimuti daratan, beberapa puncak gunung menyembul disela-selanya.  Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu mengintip mentari menggeliat dari tidurnya. Langit menjadi kemerahan, matahari mulai muncul, kuning kemerahan, inikah yang disebut golden sunrise.? Sungguh pertunjukan alam yang memukau, dedaunan berubah warna sejenak menjadi sedikit kemerahan seakan ikut merayakan kebangkitan sang mentari. Awan berarak menyingkir, desa-desa dibawah bukit mulai Nampak. Terasering persawahan penduduk menghiasi dinding-dinding perbukitan sekitar . Sungguh panorama yang indah.

Setelah puas memandangi dan berfoto bersama matahari, kamipun turun, meniti jalan yang sama menuju tempat parkir dipinggir telaga, Telaga Cebongan namanya. Telaga Cebongan merupakan telaga dikaki bukit sikunir persis disamping tempat parkir. Telaga yang luasnya kurang lebih  2 kali lapangan sepakbola ini dimanfaatkan penduduk untuk menyirami tanaman mereka hal ini terlihat dari banyaknya pipa dan pompa air di pinggir telaga. Tak banyak yang bisa dilakukan di telaga ini selain foto-foto, karena memang tidak ada fasilitas pendukung yang bisa dimanfaatkan wisatawan. Kamipun melanjutkan perjalanan menuju tempat wisata yang lainnya di kawasan Dieng.

Salam Jenggot

October 27, 2011

Selamat datang di lapak Papah Jenggot.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.